Dampak Perubahan Iklim dan Krisis Lingkungan di Kabupaten Probolinggo

Ilustrasi banjir 

Kabupaten Probolinggo, yang didominasi oleh lahan sawah dan perkebunan, dalam beberapa bulan terakhir mengalami berbagai permasalahan lingkungan yang signifikan. Bencana banjir yang melanda beberapa wilayah serta puting beliung yang merusak rumah dan lahan pertanian menjadi indikasi bahwa kondisi lingkungan di daerah ini semakin rentan terhadap perubahan iklim dan faktor antropogenik. Fenomena ini tidak bisa dianggap sebagai kebetulan, melainkan harus dilihat sebagai dampak dari berbagai permasalahan ekologis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan bencana banjir di Kabupaten Probolinggo adalah meluapnya air sungai serta jebolnya waduk. Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam sistem pengelolaan air dan lingkungan yang kurang optimal. Pembangunan infrastruktur yang tidak memperhitungkan keseimbangan ekosistem, seperti proyek jalan tol yang menyebabkan kerusakan lingkungan serta penebangan pohon yang berlebihan di hulu, khususnya di kawasan hutan Argopuro, turut memperparah kondisi lingkungan. Penggundulan hutan di daerah hulu mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan, sehingga meningkatkan risiko banjir di daerah hilir.

ilustrasi polusi udara

Selain itu, polusi udara akibat aktivitas industri dan transportasi di daerah ini turut memperburuk kondisi lingkungan. Menurut Rendy Irawadi dan Mohammad Razif, "Perubahan karakteristik atmosfer disebabkan oleh banyaknya pencemaran udara dari dalam maupun di luar ruangan. Asap dari rumah tangga, kebakaran, dan industri merupakan penyebab utama pencemaran udara." Peningkatan polusi udara dapat memperparah dampak perubahan iklim, memicu perubahan pola cuaca yang ekstrem, serta berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi bencana alam.

Selain banjir, kejadian puting beliung yang merusak pemukiman dan lahan pertanian juga merupakan dampak dari perubahan pola cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Meningkatnya suhu global dan terganggunya keseimbangan atmosfer menyebabkan perubahan pola angin dan curah hujan yang tidak menentu. Jika tidak ada langkah mitigasi yang serius, bencana semacam ini dapat terus terjadi dan semakin sering di masa mendatang.

Untuk menghadapi krisis lingkungan ini, diperlukan kerja sama yang erat antara masyarakat dan pemerintah. Pemerintah harus lebih serius dalam melakukan perencanaan dan pengawasan terhadap proyek pembangunan agar tidak merusak keseimbangan ekosistem. Selain itu, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam menjaga lingkungan, seperti melakukan penghijauan kembali di daerah yang mengalami deforestasi serta mengurangi aktivitas yang dapat merusak ekosistem.

Langkah antisipasi lebih baik daripada harus bereaksi setelah bencana terjadi. Oleh karena itu, kajian mendalam mengenai pembaruan dan perawatan lingkungan perlu dilakukan secara komprehensif. Dengan memahami faktor-faktor penyebab utama bencana, pemerintah dan masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang efektif untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.

Kesadaran kolektif dan gotong royong dalam menjaga lingkungan harus terus ditingkatkan. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam, baik melalui edukasi, partisipasi dalam program penghijauan, maupun mendukung kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Dengan langkah-langkah yang tepat, dampak perubahan iklim dapat diminimalisir dan Kabupaten Probolinggo dapat terhindar dari bencana ekologis yang lebih parah di kemudian hari.

------------------------------------------------

source image : gemini.google.com
jurnal : https://envirotek.upnjatim.ac.id/index.php/envirotek/article/view/216

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama