Swasembada pangan pernah menjadi salah satu pencapaian besar Indonesia pada era Orde Baru, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. meskipun produksi beras nasional hanya sekitar 12 juta ton pada tahun 1969 kemudian program intensifikasi pertanian yang dituangkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 95 Tahun 1969 Saat itu, Setelah 15 tahun, Indonesia akhirnya mencapai swasembada pangan pada tahun 1984—a Indonesia mampu menjadi salah satu eksportir pangan dunia. pencapaian monumental yang juga mendapat pengakuan dari FAO.
Namun, upaya menuju swasembada bukanlah perjalanan yang mudah. Keberhasilan tersebut melibatkan program transmigrasi, subsidi pupuk, hingga modernisasi alat pertanian, yang sering kali dibayangi oleh tantangan sosial-ekonomi. Beberapa pihak mengkritik bahwa pencapaian itu, meskipun luar biasa, membawa dampak jangka panjang yang perlu dievaluasi.
Di masa kini, isu swasembada kembali mencuat melalui pernyataan Prabowo Subianto yang berkomitmen menyelesaikan tantangan swasembada pangan dalam 4-5 tahun. Sebuah target ambisius, mengingat Soeharto membutuhkan 15 tahun untuk mencapainya. Dalam konteks ini, beberapa pertanyaan besar muncul: apakah Indonesia mampu mengulang kesuksesan itu, terutama dengan infrastruktur yang saat ini telah jauh lebih maju? Ataukah target ini akan menuntut pengorbanan yang mengingatkan pada eksploitasi tenaga kerja ala masa kolonial?
Perlu diingat, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia masih bergantung pada impor beras, yang menunjukkan betapa kompleksnya tantangan swasembada pangan. Dengan demikian, gagasan menjadikan Indonesia sebagai "lumbung beras dunia" perlu dipertimbangkan secara kritis. Apakah kita memiliki mekanisme yang cukup inklusif dan berkelanjutan untuk mencapainya tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat?
Inisiatif Hijau, 2024
------------------------------------------------------------------
Image Suorce
https://www.antaranews.com/berita/4415305/mewujudkan-swasembada-pangan