PROBLEMATIKA DEMOKRASI ELEKTORAL

Upaya Reformasi Menuju Sistem Elektoral yang Lebih Baik

Negara demokrasi adalah bentuk tatanan yang di mana rakyat  menjadi puncak kedaulatan. Pemerintah hanyalah alat yang diutus oleh rakyat. Tidak ada hak bagi pemerintah menjalankan kebijakannya tanpa persetujuan dan kehendak rakyat. Jangan pernah membalik konsep demokrasi, menjadi pemerintah yang meminta izin sebagai pemimpin tetapi tidak meminta persetujuan rakyat dalam setiap kebijakannya. Rakyat memiliki hak penuh mengatur aparat negara, karena mereka tidak lebih dari alat kekuasaan rakyat. Konsep ini memang konsep yang sangat ideal, tetapi dalam realitasnya,  pemimpin hanya memperalat rakyat, menggiring masyarakat, menciptakan ketakutan dengan memanfaatkan kekuasaan yang mereka minta dari rakyat. Kekuasaan yang seharusnya menjadi media membangun negara atas aspirasi rakyatnya bergeser menjadi malapetaka bagi rakyat.

Pemerintahan dengan sistem demokrasi, memastikan bahwa tidak ada kekuatan politik yang dapat bertahan lama tanpa perubahan. Pemerintah harus secepat mungkin untuk melakukan transisi kepemimpinan, dalam upaya untuk meredam kekuasaan yang lebih lama. Salah satu konsep agar rakyat menjadi aktor utama dalam menentukan pergeseran kekuasaan adalah bentuk “Demokrasi Elektoral”. Elektoral adalah sistem pemerintahan atas kehendak mayoritas. Rakyat akan memilih para calon dan petugas akan memastikan perhitungan yang jujur dan rahasia. Apakah konsep ini menjadi ide utopian? Secara konsep demokrasi memang benar. Tetapi pemimpin yang dipilih secara demokratis tidak menutup kemungkinan menjadi pemimpin yang totaliter dan reaksioner. Rakyat harus disadarkan bahwa memilih seorang pemimpin  bukanlah akhir. Rakyat harus sadar bahwa ini hanya satu rantai dari sistem pengelolaan negara.



Demokrasi elektoral adalah konsep yang sangat bagus, tetapi banyak masalah yang terdapat di dalamnya. Sistem demokrasi memang memiliki banyak kekurangan, tetapi hanya sistem demokrasi yang dapat menyikap dan memperbaiki masalah-masalah dalam sistem pemerintah secara bersama. Berikut masalah yang sering dihadapi dalam demokrasi elektoral:


1. Terjebak dalam Seremonial

        Demokrasi secara  seremonial yang dilakukan untuk menggantikan figur pemimpin. Terjebak dalam nuansa upacara seolah menyambut perebutan kekuasaan yang mengasingkan rakyat. Dana yang begitu besar dikeluarkan hanya untuk pergeseran kekuasaan yang belum tentu menuju arah yang lebih baik. Ditengah gelontoran dana yang memabukkan, rakyat sedang kelaparan sampai tidak memikirkan suasana pergeseran kekuasaan. Bagaimana konsep demokrasi elektoral dapat dilaksanakan ketika rakyat tidak sempat memikirkan bangsanya, karena untuk hidupnya saja mereka tersendat. Kesadaran rakyat seperti ini mudah diteralat oleh oknum yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan menyamar menjadi kaum demokratis.

2. Berada diantara Realitas Demokrasi dan Citra Demokrasi

       Demokrasi sering dipromosikan secara masif melalui berbagai media, menyampaikan bahwa demokrasi menjadi kebebasan berpendapat. Perbaikan citra demokrasi untuk kepentingan diri sendiri. Jauh dari itu, melihat realitas yang sangat tajam, prinsip demokrasi hanya diterapkan saat transaksi pergantian penguasa. Sebagai bentuk pemikat hari rakyat dengan berbagai metodenya, sering kali disebut metode “Tebar Jala”. Demokrasi harus menjadi media untuk suara rakyat sampai kepada pemimpin sebagai sebuah kepentingan umum. Kerap kali hal ini tidak dapat dilaksanakan dan bahkan mendapat pembungkaman. Hal semacam ini dikatakan quasi-demokrasi, demokrasi semu yang menjauhkan arti demokrasi dari realita.

3.Peralihan Kekuasaan Pada Pemilik Modal (Demokrasi Transaksional)
        
        Demokrasi elektoral tentu membutuhkan dana yang besar. Hal ini menjadi sesuatu yang krusial untuk menjaga kemurnian niat dari setiap stackholder dalam pemilu. Politik semacam ini yang seakan menjadi ciri khas para politikus. Dana yang  dimiliki tiap calon belum tentu cukup, memancing sifat drakula dan menjadi “Ahli Hisap  dan bekerja sama dengan pihak lain yang memiliki kepentingan dalam pemilu, hingga menutup niat murni dari calon. Demokrasi yang diterapkan dalam negara yang memiliki ketimpangan ekonomi dan pendidikan, menjadi lahan subur bagi feodalisme baru yang akan mengakar dalam demokrasi elektoral. Bahkan tidak sedikit “Kaum Intelektual” menjadi kaki tangan dari sang “Ahli Hisap” untuk mendapat sedikit air duniawi yang menggugurkan daya nalar mereka. Hal ini mereka lakukan untuk mendapat keuntungan materil dan mendapat posisi strategis dalam pemerintahan. Mengubah konsep demokrasi elektoral menjadi pasar bebas. Bahkan jual beli suara antar calon, menjadikan rakyat sebagai komoditas.

4. Manipulator Ulung

        Parpol menjadi sarana untuk mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin. Terkadang keinginan parpol berseberangan dengan kepentingan massa pendukung. Awalnya parpol menyamarkan niatnya menjadi seperti kemauan rakyat. Tetapi, ketika kekuasaan berada dalam tangan parpol, mereka menjadi apatis. Bahkan cenderung mempertahankan kekuasaan dengan menjadi manipulator. Pihak terpinggirkan tidak berbeda jauh dari parpol pada kasus diatas,  mereka  memanfaatkan elektabilitas, keagamaan, dan isu sosial untuk membawa massa melawan pemerintah. Tetapi, ketika pihak ini berhasil dan menjadi penguasa, rakyat dibuang lagi. Sampai rakyat tidak mempercayai penguasa saat ini dan para pembawa perubahan. Karena tidak sedikit yang mengaku pembawa perubhan akan sama seperti penguasa saat ini, bahkan lebih kejam.

5. Pengalihan Suara Rakyat

        Parpol yang seharusnya menjadi wadah aspirasi rakyat, tidak lagi berperan sebagai mana mestinya. Parpol hanya memfasilitasi suara kadernya. Apakah anggotanya membawa kepentingan  umum atau kepentingan pribadi masih dipertanyakan. Apakah kepentingan masyarakat murni? Atau ikut serta kepentingan pribadi di dalamnya? Sampai saat ini tidak ada yang benar-benar menjadi narahubung aspirasi rakyat.

6. Kemajemukan Rakyat

        Keberagaman masyarakat mungkin membawa sebuah nilai lebih dalam negara demokrasi, tetapi semakin terdapat beberapa kekurangan yang begitu menonjol. Kemajemukan masyarakat tentunya akan melahirkan kemauan yang berbeda dari mereka. Semakin beragam kemauan masyarakat yang memilih penguasa. Semakin banyak kekacauan yang akan didapat. Penguasa mengikuti menuruti kemauan mayoritas, karena mereka adalah pemenang dalam pesta demokrasi.  Tetapi apakah kemauan mayoritas tidak menutupi kemauan minoritas? Atau mayoritas ingin menghabisi kekuatan minoritas dan menjadi kepentingan kolektif yang buta? Suara manakah yang seharusnya diambil, minoritas atau mayoritas? Penguasa memiliki janji yang disepakati oleh mayoritas, tetapi minoritas memiliki hak atas kewarganegaraannya dalam memberikan aspirasi yang harus diwadahi oleh pemerintah.


Persimpangan Jalan, 2024

Penulis: Nanang Hermawan

----------------------------------------------------------------------------

Picture Generate by Gemini AI

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama