Tercatat dalam sejarah di negara Indonesia bahwa Hari Ibu digagas dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tanggal 22 – 27 Juli 1938 yang bertempat di Bandung. Latar mula Hari Ibu ditetapkan tanggal 22 Desember karena berawal dari pelaksanaan Kongres Perempuan I di Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 22 – 25 Desember 1928. Dasar kongres perempuan yaitu terinpirasi dari semangat perjuangan kaum perempuan untuk melawan penjajah pada abad ke-19. Sebab sejarah di masa lampau perlu diungkit kembali agar seluruh kaum perempuan Indonesia memahami substansi Hari Ibu. Maka dari itu dengan cara memahami sejarahnya, kita dapat mengambil hikmah semangatnya sehingga mampu mengelola momentum ini secara optimal bagi pemberdayaan bagi kaum perempuan sendiri.
Momentum Hari Ibu tidak hanya membahas tentang kebangkitan dan perjuangan perempuan, tetapi tidak kalah pentingnya merefleksikan peran seorang perempuan di dalam lingkup keluarga yakni seorang Ibu bagi anak. Sejatinya perayaan Hari Ibu ini adalah sebuah kesempatan bagi seorang anak untuk merenung dan merayakan sosok perempuan tercinta yang tak ternilai dalam hidup kita dan mengungkapkan rasa kasih sayangnya.
Di
negara Indonesia masih marak terjadinya kasus kejahatan yang dilakukan oleh
anak terhadap ibu kandungnya sendiri terutama bagi anak remaja berumur sekitar
17 Tahun. Kita ambil contoh kasus yang terjadi di wilayah Kabupaten Deli
Serdang Provinsi Sumatera Utara. Dalam kasus tersebut seorang anak remaja tega
menikam Ibu kandungnya sendiri karena kesal dimarahi yang selalu pulang larut
malam. Anak remaja tersebut berani menikam dan melakukan penusukan terhadap
tubuh ibu kandungnya sebanyak 12 kali sehingga mengakibatkan sobekan di bagian
punggung dan perut. Pelaku anak remaja tersebut atas segala perbuatannya
menjadi tersangka dan di jerat Pasal 44 Ayat 2 UU RI Nomor 23 Tahun 2004
tentang KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ).
Pada
contoh kasus tersebut tentunya kita dapat mengambil suatu pembelajaran bagi seorang
ibu bahwa sangatlah penting peran menjaga pola asuh bagi anak remaja. Setiap
anak tentunya memiliki pola asuh yang berbeda-beda tergantung dengan rentang
usianya. Karena itu, seorang ibu tidak dapat menyamakan cara menghadapi anak
bayi dengan balita, apalagi jika sudah memasuki usia remaja. Rintangan dan
tantangan yang akan dihadapi juga dapat berbeda. Pada usia remaja ini menjadi
masa yang menentukan untuk melihat minat dan bakatnya. Metode pola asuh yang
tepat bagi anak usia remaja dapat membuat mereka lebih dekat dengan orangtuanya
agar mereka tidak canggung saat menceritakan segala hal. Maka dari itu seorang
ibu harus mengetahui cara yang tepat dalam menerapkan pola asuh. Adapun seorang
ibu dapat menerapkan beberapa pola asuk anak remaja yang dapat dilakukan yaitu Langkah
Pertama, selalu menunjukkan rasa kasih sayangnya secara rutin dengan
selalu memberikan perhatian seperti menghabiskan waktu bersama anak dan
mendengarkan jika anak berbicara sehingga anak percaya jika orangtuanya dapat
menjadi tempat berbagi cerita yang baik. Langkah Kedua, Ibu dapat menentukan
harapan yang tinggi pada anak dengan menyesuaikan tingkat kemampunnya. Peran
dukungan orangtua sangatlah penting agar anak dapat mencapai kesuksesan atau
prestasi. Sebab anak remaja mendapatkan kepercayaan diri melalui suport system
dari orangtua. Langkah Ketiga, menerapkan aturan kedisiplinan dan konsekuensi
pada anak remaja agar dapat berperilaku baik. Jika aturan diterapkan maka anak
remaja sudah mulai terbiasa untuk mengemban tanggungjawab yang lebih besar dan
berikan dirinya ruang kebebasan aktivitas sesuai dengan pengawasan orangtua.
Semua
hal yang dapat dilakukan orangtua sebagai pola asuh pada anak remajanya dengan
menerapkan langkah tersebut. Harapan besar bagi seorang ibu agar anak remajanya
menjadi lebih baik untuk menggapai masa depan di segala aspek kehidupan dan
menjadi generas bangsa yang berprestasi untuk tanah air negara republik
Indonesia.
Penulis : Choirul Anam Fatur Rohman
--------------------------------------------------------------
.jpeg)
.jpeg)