Manusia pada dasarnya selalu mengarah kepada kebaikan. Hal
ini sering dibahas dalam pembahasan mengenai keadaan alamiah manusia. Kebaikan
bagi manusia diartikan sebagai sesuatu yang bermanfaat. Namun, saat ini, kata
"manfaat" sering kali dipahami sebagai keuntungan material. Banyak
orang melakukan sesuatu yang menurut mereka bermanfaat hanya untuk meraih
keuntungan yang terlihat, sehingga kemanusiaan mereka mulai terlupakan. Mereka
lupa bahwa manfaat sejati adalah memiliki hubungan yang baik antar sesama, karena
pada asalnya manusia adalah makhluk sosial.
Keuntungan menjadi hal yang paling penting, yaitu
memperoleh sesuatu yang dapat meningkatkan posisi diri sendiri tanpa memikirkan
orang lain. Berbagai cara, bahkan yang tidak benar, dihalalkan demi mencapai
tujuan ini. Keuntungan bukan lagi diartikan sebagai kebaikan. Banyak orang
mengkritik kesalahan orang lain, namun ketika kesalahan yang sama dilakukan
oleh diri sendiri, mereka mengabaikannya, seolah hanya orang lain yang salah.
Mereka seakan merasa memiliki hak khusus untuk melakukan kesalahan.
Meskipun sadar bahwa mereka melakukan kesalahan, jika
kesalahan tersebut masih menguntungkan, cara itu kemudian dibenarkan. Hal ini
sering dibungkus dengan alasan untuk meningkatkan nilai diri. Pikiran mereka
terdoktrin oleh kepentingan pribadi, bahkan terkadang terjebak dalam sikap
egois.
Memang, mengkritik kesalahan orang lain demi keuntungan
pribadi bisa saja terjadi, namun penting untuk juga mengkritik kesalahan dalam
diri sendiri. Jalan untuk menyadarkan bahwa tidak boleh ada dua standar dalam
menilai kesalahan memang sulit. Penolakan dan ancaman sering kali muncul,
tetapi jalan lurus menuju kebaikan tanpa kesalahan sedikit pun demi kepentingan
kemanusiaan harus tetap ditegakkan. Kebenaran akan tercapai ketika kita tidak mendua pada kesalahan yang sama.