Terlahir di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, kesunyian yang mengisi jiwa. Itu yang saya rasakan, namun di balik itu ada rasa syukur yang mendalam atas karunia hidup di semesta alam ini. Meskipun keluarga kami sederhana dan hidup terbatas, saya tumbuh dalam suasana penuh berkecukupan, sebuah anugerah Tuhan yang tiada terhingga.
Sejak kecil, ibu saya telah mengajarkan pentingnya kerja keras. Saat saya belum genap berusia sepuluh tahun, ibu mengajak saya berjualan sayur di pasar. Dengan penuh semangat, saya ikut membantu meskipun awalnya tidak tahu apa-apa. Sementara teman-teman saya menikmati kenyamanan hidup yang serba mudah. Sedikit terbesit pikiran 'mengapa hidup saya tidak seberuntung teman-teman saya. Dari situlah saya mulai merasakan bahwa hidup ini tidak selalu tentang kemudahan. Ada perjuangan di balik setiap langkah yang harus ditempuh.
Meskipun terkadang muncul rasa keluh kesah karena merasa kurang beruntung dibandingkan teman-teman saya, saya belajar banyak dari proses ini. Saya belajar bekerja keras dan menabung hasil jerih payah untuk melatih hidup hemat sejak dini. Uang jajan yang saya peroleh dari jualan sayur kemudian saya simpan, sebagai bentuk penghargaan terhadap setiap usaha yang saya lakukan bersama ibu.
Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, salah satu teman kelas saya bertanya kepada teman dekat saya "anam itu orangnya seperti apa? " Saya yakin jawabannya pasti "Pendiam dan Pemalu". Memang, saya dikenal sebagai anak yang pendiam dan pemalu. Bahkan, untuk sekadar mengangkat tangan di kelas, saya merasa sangat gugup. Kenangan yang masih membekas adalah saat saya ditunjuk menjadi pembaca UUD 45 pada upacara bendera setiap Senin. Kaki saya gemetar, dan keringat membasahi wajah. Sahabat pun tak banyak, tak heran jika orang- itu-itu saja yang dekat dengan saya bahkan bisa dihitung dengan jari.
Suatu ketika, saya mulai berpikir, "Apakah hidup saya akan seperti ini terus?" Hidup tanpa tantangan, tanpa perubahan, akan membuat saya terjebak dalam zona nyaman yang semu. Saya sadar bahwa untuk bisa berkembang, saya harus keluar dari zona tersebut. Saya harus berani mencoba hal-hal baru, meskipun pada awalnya terasa sulit. Namun, jika kita terus berusaha, yang sulit akan menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi kebutuhan. Seperti yang saya lakukan sekarang, membaca buku setiap hari telah menjadi rutinitas yang saya nikmati.
Selama hidup, kita selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Jangan terlalu larut dalam beban masa lalu. Sebab, semakin kita menua, semakin berat perjalanan yang harus kita hadapi. Karena hidup ini adalah perjalanan yang terus berubah, dan kita berhak untuk menciptakan versi terbaik dari diri kita sendiri. Agar hidup terasa lebih ringan, berdamailah dengan masa lalu, dan bertekadlah "Aku akan menjadi pribadi yang baru".
Kunci
Kemauan Untuk Melompat Lebih Jauh
Setiap diri kita pasti mempunyai pengalaman,
karakter, atau kebiasaan buruk hasil kekhilafan dari masa lalu. Bisa karena
pengaruh pergaulan, kondisi keluarga, keyakinan yang tidak benar, efek bacaan,
kemalasan yang menjadi budaya, pendidikan yang kurang tepat dari keluarga dan
sebab-sebab lainnya. Di usia yang matang, kita tentu ingin mengubah kebiasaan
buruk itu agar tidak berlarut-larut membayangi hari-hari kita. Karena jika
tidak segera diubah, kebiasaan buruk itulah yang menjadi penyebab banyak
kegagalan dalam hidup kita di masa depan.
Tahap pertama yang perlu kita pikirkan adalah alasan yang kuat mengapa
kita ingin mengubah kebiasaan itu. Pikirkan, apa sih sebenarnya yang ingin kita tuju ?. Apa harapan di masa
depan yang ingin sekali kita raih dari perubahan yang hendak kita lakukan ?
Tentukan motivasi terkuat yang bisa
menyemangati kita untuk bisa berubah. Tanpa motivasi yang kuat, biasanya
perubahan itu hanya ada di awal saja. Padahal kebiasaan buruk tidak bisa
dihilangkan dengan spontan. Butuh usaha yang kuat. Semakin kuat alasannya,
semakin konsisten kita berubah.
Tahap kedua, pilih pengingat. Kadang kondisi jiwa kita bergantung
pada mood. Ada kalanya kita semangat sekali menghentikan kebiasaan buruk,
tetapi kadangkala kita nurutin dengan dalih penundaan, “ Ah, besok saja lah
berhentinya. “ Penundaan itu bisa dipacu oleh banyak hal, salah satunya adalah
tidak adanya pengingat atau pemicu mengapa kita harus segera berubah.
Tahap
ketiga, bautlah support
system. Maksudnya
miliki komunitas atau orang-orang yang tepat untuk memantau perubahan diri
kita. Bisa pasangan hidup, sahabat karib, atau rekan kerja yang bersedia
menjadi pengingat saat kita kembali ke kebiasaan lama.
Tahap keempat, mulai dari hal yang sederhana. Perubahan besar bisa
dilakukan secara bertahap. Sulit kita mengubah secara instan atas kebiasaan
yang sudah bertahun-tahun kita lakukan. Maka butuh latihan, mulai dari hal
kecil dan sederhana.
Tahap kelima, fokus pada segala proses. Perubahan tidak terjadi dalam
waktu singkat. Kita butuh motivasi agar tetap melanjutkan perubahan itu setiap
waktu. Maka yang kita perlukan adalah penyemangat. Bisa lewat dari diri sendiri
atau orang lain. Salah satu penyemangat dari diri sendiri yaitu menghargai
proses yang sudah kita capai. Hargai perubahan sekecil apapun yang sudah
berhasil kita lakukan. Nikmati saja prosesnya dan tetap yakin, usaha dan
sampai.