GAYATRI RAJAPATNI & TRIBHUANA TUNGGADEWI

 

Sosok Pelopor Kejayaan Kerajaan Majapahit

Majapahit adalah Kerajaan besar dengan pusat kekuasaan berada di daerah Jawa yang berdiri pada abad 13 M dengan raja pertama Raden Wijaya. Eksistensi Majapahit tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Singasari dengan tragedi perang Singasara. Di mana Jayakatwang bersama Raden Wijaya sebagai panglima perang singasari mengabdi padanya atas usul dari Arya Wiraraja yang merupakan Adipati Songonnep (sekarang Madura) ketika ia sedang melarikan diri ke pulau Madura. Raden Wijaya dan Arya Wiraraja membangun hunian untuk para prajuritnya di sepanjang sungai Brantas.

Saat Mongol tiba yang masih dalam kekuasaan Khubilai Khan untuk menyerang Kertanegara akibat kekerasan yang dilakukan pada utusan Mongol. Raden Wijaya berhasil memanfaatkan momentum ini dan berbalik menyerang Jayakatwang bersekongkol dengan pasukan Mongol. Berakhirnya perang melawan Jayakatwang, tidak membuat Raden Wijaya berhenti, kepercayaan yang diberikan oleh panglima mongol berbalik dan mengakhiri hidupnya,  Raden Wijaya membunuhnya saat perjalanan kembali untuk mempersiapkan persembahan kepada Kerajaan Mongol. Pasukan mongol tidak siap melawan pasukan Raden Wijaya memaksa mereka untuk mundur meninggalkan pulau jawa, kejadian ini mengafirmasi berdirinya Kerajaan Majapahit dan untuk pertama kalinya bendera Getah-Getih (Merah-Putih) berkibar pada tanggal 12 November 1293.

Suksesi Raden Wijaya memberi dampak pada Arya Wiraraja yang mendapat kekuasaan di seluruh pulau Madura. Ranggalawe yang mendapat jabatan Adipati Tuban, dan Lembu Sora sebagai Patih Dhaha. Kematian Raden Wijaya pada 1309 M, tiba pewarisan kekuasaan pada “Kala Gemet” Jayanegara yang merupakan anak dari selir Raden Wijaya bernama Dara Petak. Pengangkatan Jayanegara sebagai Raja Majapahit, kelak akan membuatnya berada dalam keadaan sulit. Pertama, Ia tidak diakui sebagai Raja karena hanya seorang dari selir dan bukan keturunan asli Majapahit. Kedua, daerah-daerah strategis mulai memberontak akibat pembagian imbalan yang seimbang. Sampai akhirnya terjadi penyerahan kekuasaan dari Jayanegara kepada Gayatri  Rajapatni yang merupakan seorang Biksuni. Penyerahan kekuasaan pada Gayatri Rajapati bukan tanpa asalan. Pertama, karena Jayanegara tidak memiliki seorang keturunan. Kedua, Agama Hindu menjadi agama mayoritas pada saat itu, dan Gayatri Rajapatni sebagai Biksuni menjadikan dia opsi sebagai Ratu. Terlepas dari tuntutan lain, karena Gayatri adalah Istri Raden Wijaya.

Kisah panjang perjalanan Gayatri memberikan arti penting tentang perjuangan. Dari sebuah kemewahan dalam kerajaan Singasari, hilang begitu cepat akibat serangan dari kerajaan Kediri. Memaksanya harus melarikan diri ke daerah Dhaha, Ibukota Kediri bersama dengan seorang pelayannya Ratna Sutawan. Dari sini, pertemuan antara Gayatri dan Raden Wijaya dan membentuk kelompok untuk merebut kekuasaan Raja Jayakatwang dan Kejaraan Kediri, persekongkolan juga ditunjang oleh pasukan Mongol. Kemenangan Raden Wijaya dan Gayatri dengan merebut Kerajaan Kediri dan mengusir pasukan Mongol, berinisiatif mendirikan kerajaan Majapahit. Istri pertama Raden Wijaya adalah kakak pertama Gayatri, kemudian kakak kedua dan ketiga Gayatri yang mengalami trauma perang. Istri keempat adalah Gayatri. Istri kelima merupakan hadiah dari Kerajaan Daha setelah mengalahkan Kerajaan Kediri dan Mongol. Raden Wijaya memiliki seorang putra dari istri kelima ini dengan nama Kala Gemet. Hal ini tetap membuat Raden Wijaya mencintai Gayatri karena kepintaran dan keberaniannya dalam membangun kerajaan Majapahit.

Masa kecil yang sudah terbiasa dengan suasana istana bersama tiga saudara perempuannya, tidak membuat Gayatri memiliki kepribadian seperti para penghuni Istana. Sebagai seorang perempuan yang biasanya fokus pada penampilan fisik, Gayatri tampil berbeda dan fokus pada intelektualitas. Hal ini disebabkan oleh Ayah yaitu Raja Kertanegara merupakan Raja Kerajaan Singasari yang selalu menanamkan intelektualitas. Sri Rajendradewi Gayatradalah istri Raden Wijaya, gelar “Rajapatni” memiliki arti istri yang diutamakan oleh raja. Kehidupan mereka penuh dengan kebahagiaan dan diskusi tentang kerajaannya. Gayatri dan Raden Wijaya di anugerahi 2 putri, yaitu Tribhuana dan Wiyah Rajadewi. Raden Wijaya meninggal pada usia 46 tahun, digantikan oleh Jayanegara membentuk pasukan khusus dengan Gadjah Mada sebagai pimpinannya. Gadjah Mada telihat memiliki potensi oleh Gayatri, Ia mencoba berpolitik dengannya untuk mendapat posisi statregis yaitu menaikkan putrinya ke singgasana. Hal ini membuat perseteruan antara Gayatri dan Jayanegara yang memuncak ketika Jayanegara menghendaki kedua adik tirinya untuk menjadi istri Raja. Naib nahas menimpa Jayanegara yang sedang mengalami tumor dan segera menjalani bedah, namun ahli bedah ternyata memiliki niat membunuhnya. Keberanian ahli bedah ini disinyalir akibat terdengarnya kabar dari Gadjah Mada bahwa, sang Raja telah meniduri Istrinya. Tragedi ini menewaskan Jayanegara dan menyebabkan kosongnya kursi kekuasaan Majapahit. Kekuasaan yang kosong ini menjadi bahaya, karena kerajaan lain mencoba merusak kekuasaan Majapahit, oleh karena itu Gayatri atau putri sulungnya menjadi ratu.

Pada kejadian yang memaksa turunnya Jayanegara dari singgasana, Gayatri sebagai Istri Utama memiliki hak atas kekuasaan tersebut. Namun, kekuasaan tersebut dialihkan oleh Gayatri Rajapatni kepada Tribhuana Wijayatunggadewi “Putri Gayatri” dan memilih menjadi Biksuni. Gayatri dengan komitmennya untuk meninggalkan segala urusan duniawi dan menjadi penganut Budhhis. Sejarah Jawa pada saat itu tidak mengenal penguasa dari kaum perempuan dan Gayatri tidak berpikir untuk menikah kembali. Pilihan yang mungkin adalah mengangkat putrinya Tribhuana menjadi ratu dan Pangeran Tumapel Singasari yang merupakan tunangan menjadi Raja. Dibalik layar, Gayatri dan Gadjah Mada masih menjadi penasehat mereka berdua, mengingat Raja dan Ratu baru belum memiliki pengalaman dalam memerintah Kerajaan Majapahit. Peranan mereka berdua menjadi awal kebangkitan Majapahit dibawah kekuasaan Hayam Wuruk.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari pribadi Gayatri Rajapatri, seperti Nasionalisme, Feminisme, dan Spiritualisme. Pemikiran Gayatri tidak bisa terlepas dari cita-cita Cakrawala Mandala, dari semangat dan visi menyatukan Nusantara inilah yang menjadikan Raden Wijaya Tertarik dengan Gayatri. Gayatri sangat mengerti bahwa mantan permaisuri Raja tidak boleh naik dalam singgasana menggantikan suaminya yang telah wafat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kemurnian garis keturunan. Hal ini pula yang mendasari Gayatri menugaskan putrinya Tribhuana untuk naik tahta menggantikan Jayanegara menjadi Rajaputri (Raja Perempuan). Gayatri dengan teguh untuk menyatukan Nusantara sebagaimana tekad ayahnya Cakrawala Mandala. Dengan bantuan Gadjah Mada dalam sumpah Palapa sehingga Ia menjadi Maha Patih menggantikan Arya Bangah. Gayatri adalah satu-satunya tokoh sekaligus anak yang mampu menjadi jembatan untuk melanjutkan dan mengabadikan doktrin ajaran bhineka tunggal ika dan visi penyatuan nusantara.

Terpilihnya Gayatri untuk menggantikan Jayanegara yang telah wafat sebagai Rajaputri, membuatnya tidak dapat mengambil amanah tersebut dikarenakan dirinya telah memilih untuk mengabdikan dirinya menjadi Bhiksuni. Meskipun secara resmi Gayatri tidak menjabat sebagai seorang ratu, Gayatri tampil sebagai seorang penasehat kerajaan sekaligus mengawasi dan membimbing Tribbuana Wijayatunggadewi selama masa kekuasaannya. Tribbuana Wijayatunggadewi naik tahkta di temani oleh Gajah Mada untuk memimpin dan menjalankan Majapahit. Di tahun yang sama, Gayatri mulai meninggalkan kerajaan Majapahit untuk memperdalam ilmu agamanya. Penghormatan terhadap Gayatri Rajapatni dilakukan oleh Raja dan Ratu dengan membuat suatu lukisan. Gadjah Mada memberikan penghormatan yang berbeda, Ia membangun Candi dan Ukiran Patung. Untuk terakhir kailnya, penghortaman secara besar-besaran dilakukan oleh cucunya Hayam Wuruk dengan mendirikan makam yang dikenal dengan Candi Gayatri atau Candi Boyolangu (Prajnaparamita).

Tribhuana Tunggadewi sebagai Rajaputri adalah langkah membawa kemajuan Kerajaan Majapahit dan pembuktian peran perempuan dalam sistem politik. Pembuktian Tribhuana sebagai Rajaputri terbukti dalam mengatasi berbagai gejolak dalam Kerajaan Majapahit seperti pemberontakan Sadeng  dan Keta yang bermaksud memisahkan diri dari Kedaulatan Majapahit. Perluasan wilayah juga menjadi indikator kemajuan Majapahit dibawah kekuasaannya dan juga berkat bantuan Maha Patih Gadjah Mada. Gejolak yang dihadapi Tribhuana juga terjadi sebelum dia ditunjukkan menjadi Rajaputri. Jauh sebelum itu, ketika saudara tirinya Jayanegara memimpin Mahapahit, 2 putri dari Gayatri mendapat tekanan seperti tidak diperbolehkan untuk menikah dengan alasan tidak ingin tersaingi. Niat lainnya adalah Jananegara juga ingin menikahi kerdua saudara tirinya tersebut. Di sisi lain Raja Jayanegara juga mempunyai kepribadian yang kurang baik, seperti menggoda istri salah satu dharmaputra yang mengakhiri hidupnya setelah di tikam oleh Tanca. Naiknya Tribhuana Tunggadewi mendapat sambutan baik baru semua kalangan, mengingat dia juga keturunan asli dari Kerajaan SIngasari. Perubahan besar dilakukannya untuk menstabilkan Kerajaan seperti, perbaikan sistem birokrasi, diplomasi ke berbagai daerah, dan penguatan armada angkatan laut dalam rangka melakukan ekspansi.

Jejak Perjuangan, 2025

 

REFERENSI

[1] Pinandita, A.R. 2024. Pengaruh Kekuatan Maritim Kerajaan Majapahit Dalam Menguasai Jalur Perdagangan Nusantara Pada Abad ke 13-14 M. Prosiding Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam(KONMASPI). Vol. 1

[2] Apriansyah, A.I., Titik, D.R.H. 2022. Cerita Rakyat Tokoh Gayatri Rajapatni sebagai Sarana Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pada Siswa SMA. Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

[3] Pranidhi, D., Santoso, W.M., Siscawati, M. 2022. Otoritas Perempuan dan Religiusitas Gayari Rajapatni. DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama & Kebudayaan. 22 (1).

[4] Yusuf, M.S. 2024. Meninjau Ulang Candi Boyolangu Sebagai Pendharmaan Gayatri Rajapatni. AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeolog. 42 (1).

[5] Febianty, F.A. 2024. Implementasi Ketokohan Gayatri Rajapatni Terhadap Tokoh Publik Perempuan di Kabupaten Tulungagung. AVATARA. E-journal Pendidikan Sejarah. 15(1).

[6] Susilo, A & Andriana, S. 2018. Gajah Mada Sang Maha Patih Pemersatu Nusantara  di Bawah Majapahit Tahun 1336 M - 1359 M. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora (KAGANGA). 1(1).

[7] Fitroh, A.N. 2017. Peran Tribhuwana Tunggadewi Dalam Mengembalikan Keutuhan Dan Perkembangan Kerajaan Majapahit Tahun 1328-1350. AVATARA: E-journal Pendidikan Sejarah. 5(2).

------------------------------------------------

Kritik dan saran sangat dinantikan oleh penulis

Penulis    : Nanang Hermawan

Source Image: https://www.telusur.co.id/detail/karakter-dan-kekuatan-gayatri-rajapatni-tunggadewi 

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama